Senin, 22 Maret 2010

Bahasan tentang shalat jum’atan

1 Tiang jaler sholat jum’atan hukume wajib sesuai kalian syarat- syaratipun
2 Tiang estri angsal (mboten wajib) jum’atan
Bughyatul mustarsyidin. : 79
يجوز لمن لا تلزمه الجمعة كعبد ومسافر وامرا ة الخ
1. Keutamaane Tiang estri ngadiri jama’ah sholat jum’atan Hukumipun khilaf
a. Hanafiyah : Tiang estri sepuh lan nom langkung sahe solat dhuhur wonten griyo .
b. Malikiyah : Tiang estri sepuh angsal jum’atan. Tiang estri enem angsal, bilih mboten khawtir fitnah.
c. Syafi’iyah,: Angsal, tapi makruh kagem tiang estri sepuh lan nom ngadiri jama’ah jum’atan.
d. Hanabilah : Makruh ngadiri juma’tan kagem tiang estri ingkang kanthi dandan ayu
مداهب الأربعة جزء 1 / 349


2. Setunggal pedukuhan nglaksanaaken kaleh/ tiga jum’atan hukumipun khilaf
a. Mboten angsal ( harus melakukan satu jum’atan)
فان كان التعدد زائدا على الحاجة فتصح السابقات الخ
اعانة الطالبين جزء 2 / 63
b. Angsal langkung setunggal jum’atan,
syaratipun setunggal masjid boten kirang saking 40 tiang jaler,miturut الشيخ اسماعيل الزين
قال الشيخ اسماعيل الزين اما مسئالة تعدد الجمعة فالظاهر جوازدلك مطلقا بشرط ان لاينقص عدد كل عن اربعين رجلا
قرة العين 83

SALAM MENGGUNAKAN SELAIN BAHASA ARAB

Ucapan salam sering kita dengar di suatu acara atau setiap kali bertemu teman atau saudara, namun salam yang diucapkan itu selain bahasa arab seperti dengan bahasa jawa, indonesia atau inggris.
Bagaimanakah pandangan fiqh mengenai ucapan salam selain bahasa arab?
a. Tidak sah dan tidak wajib dijawab
b. Sah dan wajib dijawab salamnya
Keterangan kitab Al-Majmu’, Juz 4 hal 599 ;
حَكَى الرَّافِعِى فِي السَّلاَمِ بِالْعَجْمِيَةِ ثَلاَثَةَ أَوْجُهٍ اَحَدُهَا لاَ يُجْزِئُ وَالثَّالِثُ إِنْ قُدِرَ عَلَى الْعَرَبِيَّةِ لَمْ يُجْزِئُهُ وَإِلاَّ فَيُجْزِئُهُ وَالصَّحِيْحُ بَلْ الصَّوَابُ صِحَّةُ سَلاَمِهِ بِالْعَجْمِيَةِ وَوُجُوْب الرَّدِّ عَلَيْهِ إِذَا فَهَّمَهُ الْمُخَاطَبُ سَوَاءٌ عُرِفَ الْعَرَبِيَّةُ اَمْ لاَ ِلأَنَّهُ يُسَمَّى تَحِيَّةً وَسَلاَمًا وَاَمَّا مَنْ لاَ يَسْتَقِيْمُ نُطْقَةً بِالسَّلاَمِ فَيُسْلِمُ كَيْفَ اَمْكَنَهُ بِاْلإِتِّفَاقِ ِلأَنَّهُ ضَرُوْرَةٌ إهـــ مجموع جزء 4 ص 599

Artinya: Imam Rofi’i menceritakan tiga pendapat tentang salam menggunakan bahasa selain arab, 1. Tidak cukup, 2. Cukup, 3. Jika mampu menggunakan bahasa arab maka tidak cukup, tetapi kalau tidak bisa maka cukup, sedangkan pendapat yang shahih bahkan benar salam sah menggunakan bahasa apa saja selain bahasa arab dan wajib menjawab bagi orang yang disalami jika bisa dipahami maksudnya baik yang mengucapkan salam bisa bahasa arab atau tidak bisa, karena salam selain bahasa arab bisa disebut sebagai penghormatan dan ucapan selamat, sedangkan bagi orang yang tidak mampu mengucapkan salam maka para Ulama sepakat baginya tetap disunahkan salam sebisanya karena Darurat.
Penjelasan:
Ucapan “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” sebagai tanda penghormatan dan ucapan selamat, demikian pula ucapan salam dengan menggunakan berbagai bahasa yang bisa dimengerti, bahkan orang yang tidak mampu mengucapkan salam disunahkan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

HUKUM TINDIK (Melubangi anggota badan untuk perhiasan dan sejenisnya) Bagi laki-laki

Sering terlihat di sebagian kalangan dan kadang menjadi tradisi atau trend menindik (melubangi) hidung atau telinga guna memasang anting atau sejenisnya baik laki-laki maupun perempuan.
Bagaimanakah pandangan fiqh apabila orang laki-laki menindik hidung atau telinga?
a. Haram mutlak bagi anak atau orang laki-laki menindik/ melubangi hidung atau telinganya, menurut Ulama Syafi’iyah
b. Makruh, menurut sebagian Ulama Hanbaliyah.

Penjelasan:
Menindik telinga atau hidung bagi perempuan semua ulama tidak melarang karena hal itu ada hak baginya untuk memperindah dan menghiasi dirinya. Asalkan saat menindik tidak menimbulkan dampak negatif. Keterangan kitab I’anah At-Thalibin, Juz 4 hal 175 – 178 ;
(وَحَرَمٌ تَثْقِيْبُ) أَنْفٍ مُطْلَقًا (وَأُذُنِ) صَبِيٍّ قَطْعًا وَصَبِيَّةٍ عَلَى اْلاَوْجُهِ لِتَعْلِيْقِ الْحَلْقِ ـــ كَمَا صَرَحَ بِهِ الْغَزَالِى وَغَيْرُهُ ـــ ِلأَنَّهُ إِيْلاَمٌ لَمْ تَدْعُو إِلَيْهِ حَاجَةٌ وَجَوَّزُهُ الزَّرْكَشِى وَاسْتَدَلَّ بِمَا فِي حَدِيْثِ أُمِّ زَرْعٍ فِي الصَّحِيْحِ ، وَفِي فَتَاوِى قَاضِيْخَان مِنَ الْحَـــنَفِيَّةِ أَنَّهُ لاَبَأْسَ بِهِ ِلأَنَّهُمْ كَانُوْا يَفْعَلُوْنَهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمْ يَنْكِرُ عَلَيْهِمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَفِي الرِّعَايَةِ لِلْحَنَابِلَةِ يَجُوْزُ فِي الصَّبِيَّةِ لِغَرْضِ الزِّيْنَةِ . وَيَكْرَهُ فِي الصَّبِيِّ . إهـــ وَمُقْتَضَى كَلاَمُ شَيْخِنَا فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ جَوَازُهُ فِي الصَّبِيَّةِ لاَالصَّبِيِّ لِمَا عُرِفَ أَنَّهُ زِيْنَةٌ مَطْلُوْبَةٌ فِي حَقِّهِنَّ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا فِي كُلِّ مَحَلٍ وَقَدْ جَوَّزَ صلى الله عليه وسلم اللَّعْبَ لَهُنَّ بِمَا فِيْهِ صُوْرَةٌ لِلْمَصْلَحَةِ ، فَكَذَا هَذَا أَيْضًا . وَالتَّعْذِيْبُ فِي مِثْلِ هَذِهِ الزِّيْنَةِ الدَّاعِيَةِ لِرَغْبَةِ اْلأَزْوَاجِ إِلَيْهِنَّ سَهِلَ مُحْتَمِلٌ وَمُغْتَفِرٌ لِتِلْكَ الْمَصْلَحَةِ . فَتَأَمَّلَ ذَلِكَ فَإِنَّهُ مُهِمٌّ . (فتح المعين بها مش إعانة الطالبين الجزء الرابع ص: 175 – 178 دارالفكير)

Artinya: haram mutlak menindik (melubangi) hidung, para ulama sepakat atas keharaman menindik telinga anak laki-laki yang masih kecil guna memasang anting, sedangkan pada anak perempuan yang masih kecil menurut qoul aujah juga haram sebab hal itu menyakiti sebelum ada keperluan. Imam Zarkasyi memperlobehkannya berdasarkan hadits Ummi Zarin di dalam hadits Shahih. Fatwa-fatwa Syech Qodikhon pengikut Madzhab Hanafi, menyatakan bahwa tidak mengapa melakukan hal itu sebab pernah dilakukan pada zaman jahiliyah, sedangkan Nabi SAW tidak mengingkarinya. Dalam kitab ri’ayah karangan pengikut madzhab Hanbali menyatakan boleh menindik anak perempuan yang masih kecil, sebab bertujuan sebagai perhiasan, sedangkan pada anak laki-laki yang masih kecil hukumnya makruh.
Perkataan Syaikhina dalam Syarah Minhaj menetapkan, diperbolehkannya itu pada anak perempuan saja tidak pada anak laki-laki, karena perhiasan itu dianjurkan bagi wanita mulai dahulu hingga sekarang dan di mana saja. Sesungguhnya Nabi Saw Memperbolehkan permainan yang bergambar (boneka) bagi anak perempuan untuk kemaslahatannya, begitu juga menindik (boleh). Sedangkan menyakiti demi untuk perhiasan yang dapat menimbulkan rasa cinta suami pada istrinya itu sangat ringan dan tidak masalah sebab ada unsur kemaslahatan.

HUKUM MENUKAR BARANG WAQOF YANG TIDAK BERMANFAAT DENGAN BARANG YANG LEBIH BERMANFAAT

Barang waqaf harus dimanfaatkan sesuai dengan keinginan waqif (orang yang mewaqafkan), namun kadang terjadi kebingungan dalam mengelola barang waqafan yang sudah rusak atau kurang memberikan manfaat.
Bagaimanakah hukum menukar barang waqafan:
a. Haram, menukar barang waqafan meskipun sudah rusak atau kurang bermanfaat, menurut Syafi’iyah.
b. Boleh, menukar atau mengganti barang waqafan yang sudah rusak dengan barang yang lebih banyak manfaatnya, menurut pendapat Imam Hanafi.
Diterangkan dalam kitab Ahkamul Fuqaha’, juz 2 hal 74 ;
هَلْ يَجُوْزُ لِنَاظِرِ اْلأَرْضِ الْمَوْقُوْفَةِ عَلَى الْمَسْجِدِ أَنِ يَسْتَبْدِلَ لَهَا بِأُخْرَى الَّتِى هِيَ أَكْثَرُ مَنْفَعَةٍ مِنَ اْلأُوْلَى أَوْلَى؟ الجواب: يَحْرُمُ إِسْتِبْدَالُ اْلأَرْضِ الْمَوْقُوْفَةِ وَيَجُوْزُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ إِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ نَفْعًا إهــ (احكام الفقهاء ج 2 ص 74)

Artinya: Bolehkah bagi pengelola tanah waqafan untuk masjid menukar tanah tersebut dengan tanah lain yang lebih banyak manfa’atnya? Jawab “Haram menukar barang atau tanah waqaf. Dan Imam Abu Hanifah membolehkan jika lebih banyak manfa’atnya”.

HUKUM ONANI ATAU MASTURBASI

Onani adalah merangsang kemaluan sendiri untuk mencapai orgasme (bagi laki-laki) dan bagi perempuan disebut masturbasi.
Bagaimanakah hukum dari masturbasi atau onani?
a. Haram, menurut Imam Malik, Imam syafi’i, dan Imam Abu Hanifah
b. Boleh, menurut Imam Ahmad bin Hanbal tetapi dengan tiga syarat:
1. Khawatir akan melakukan perzina’an.
2. Tidak mampu menikah (tidak punya mahar untuk menikahi wanita)
3. Dengan menggunakan tangannya sendiri, tidak menggunakan tangan orang lain.

Hal ini dijelaskan dalam kitab as-Showi ‘ala Syarhi Tafsir al-Jalalain juz 3 halaman 112.
قَوْلُهُ كَاْلاِسْتِمْناَءِ بِالْيَدِّ أَيْ فَهُوَ حَرَامٌ عِنْدَ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيْ وَأَبِيْ حَنِيْفَةَ فَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلْ يَجُوْزُ بِشُرُوْطِ ثَلاَثَةِ أَنْ يَخَافَ الزِّناَ وَأَنْ لاَ يَجِدَ مَهْرَ حُرَّةٍ أَوْ ثَمَنَ أَمَّةٍ وَأَنْ يَفْعَلَهُ بِيَدِهِ لاَ بِيَدِ أَجْـنَـِبيِّ أَوْ اَجْنَبِيَّةِ .
الصاوي على شرح تفسير الجلالين جز 3 ص 112

PERMASALAHAN DALAM PERNIKAHAN DAN PESTA PERNIKAHAN

• Akad Nikah Bagi Tuna Wicara
Tata cara akad nikah bagi orang normal adalah sebagaimana biasanya yang telah kita ketahui bersama, namun tata cara akad nikah bagi tuna wicara (orang bisu) adalah cukup dengan mengunakan isyarah saja sudah sah. Dalil yang menjelaskan hal ini adalah sebagai berikut:
(قَوْلُهُ وَيَنْعَقِدُ) اَيْ النِّكَاحُ وَقَوْلُهُ بِإِشَارَةٍ اَخْرَسَ مُفْهِمَةٌ عِبَارَةُ التُّحْفَةِ وَيَنْعَقِدُ نِكَاحُ اْلأَخْرَسَ بِإِشَارَتِهِ الَّتِى لاَ يَخْتَصُّ بِفَهْمِهَا الْفَطَنُ وَكَذَا بِكِتَابَتِهِ بِلاَ خِلاَفٍ عَلَى مَا فِي الْمَجْمُوْعِ لَكِنَّهُ مُعْتَرِضٌ بِاَنَّهُ يُرَى اَنَّهَا فِي الطَّلاَقِ كِناَبَةٌ وَالْقُعُوْدِ اغْلَظَ مِنَ الْحُلُوْلِ فَكَْفَ يَصِحُّ النِّكَاحُ بِهَا فَضْلاً عَنْ كَوْنِهِ بِلاَ خِلاَفٍ وَقَدْ يُجَابُ بِحَمْلِ عَلاَمِهِ عَلَى مَا اِذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ إِشَارَةٌ مُفْهِمَةٌ وَتُوَذِّرُ تَوْكِيْلِهِ لا لِلضْطِرَارِهِ حِيْنَئِذٍ وَيُلْحِقَ بِكِتَابَتِهِ فِي ذَلِكَ إِشَارَتُهُ الَّتِى يَخْتَصُّ بِفَهْمِهَا الْفَطَنُ .......... (اعانة الطالبين جز: 3: 277)
Akad nikah dihukumi sah dengan menggunakan isyarah yang memahamkan bagi orang bisu, itu terdapat di dalam kitab Tuhfah. Nikahnya orang bisu itu dihukumi sah dengan menggunakan isyarah yang memahamkan, tidak ditentukan hanya orang yang pandai memahami isyaroh tersebut.
”Juga sah nikahnya orang yang bisu itu dengan tulisannya, pendapat ini tidak ada khilaf, (keterangan kitab majmu’), namun ada sebagian golongan yang menentang pendapat ini karena sesungguhnya isyarah di dalam talak itu kinayah bukan sarih, akad nikah itu lebih berat dibandingkan talak, bagaimana nikah itu di hukumi sah dengan isyaroh tanpa ada khilaf.
Dengan menyamakan pendapat kyai mushonnif ketika orang bisu itu tidak punya isyarah yang memahamkan dan sulit mewalikan (dhorurot) maka isyarah orang bisu itu disamakan dengan tulisannya.
• Hukum atau Status budaya kado pernikahan (amplop “buwuhan”)
Di sebagian masyarakat terbangun suatu tradisi yang menarik saat menyelenggarakan walimah kemanten, khitanan atau ulang tahun, yang mana para tetangga atau sahabat dan handai taulan mendatangi undangan acara tersebut dengan membawa dan memberikan kado atau uang “buwuhan” (istilah jawa) kepada kemanten atau penyelenggara. Bagaimanakah tradisi buwuhan yang terjadi di masyarakat dilihat dari aspek hukum agama?
Dalam hal ini ulama terjadi perbedaan pendapat:
a. Hadiah, kado atau “buwuhan” statusnya sebagai Hibah.
b. Hadiah, kado atau “buwuhan” statusnya sebagai Hutang.

عِبَارَةُ التُّحْفَةِ وَالَّذِى يَتَّجِهُ فِي النُّقُوْطِ الْمُعْتَادِ فِي اْلاَفْرَاحِ أَنَّهُ هِبَةٌ وَلاَ أَثَرٌ لِلْعُرْفِ فِيْهِ لاِضْطِرَارِ بِهِ مَالَمْ يَقُلْ خُذْهُ مَثَلاًَ وَيَنْوِى الْقَرْضَ وَيَصْدِقُ فِي نِيَةِ ذَلِكَ هُوَ أَوْوَارِثُهُ وَعَلَى هَذَا يَحْمِلُ إِطْلاَقُ جَمْعٍ أَنَّهُ قَرْضٌ أَىْ حُكْمًا ثُمَّ رَأَيْتُ بَعْضَهُمْ لِمَا نَقُلْ قَوْلَ هَؤُلاَءِ. وَقَوْلُ الْبَلْقِيْنِى أَنَّهُ هِبَةٌ قَالَ وَيَحْمِلُ اْلأَوَّلِ عَلَى مَا اْعتَمَدَ الرُّجُوْع بِهِ وَالثَّانِى عَلَى مَالَمْ يَعْتَدُّ قَالَ ِلإِخْتِلاَفِهِ بِأَحْوَالِ النَّاسِ وَالْبِلاَدِ إهـــ وَحَاصِلُهُ أَنَّهُ مَحَلُّهُ إِذَا دَفَعَ لِصَاحِبِ الْفَرَحِ فِي يَدِهِ فَإِنَّ دَفْعَ لِلِخَاتِنِ فَلاَرُجُوْعَ وَفِي حَاشِيَةِ الْبُجَيْرَمِى عَلَى شَرْحِ الْمِنْهَاجِ وَالَّذِيْ تَحَرَّرَ مِنْ كَلاَمِ الرَّمْلِى وَابْنِ حِجْرِ وَحَوَاشِيْهِمَا أَنَّهُ لاَرُجُوْعَ فِي النُّقُوْطِ الْمُعْتَادِ فِي اْلأَفْرَاحِ أى لاَيَرْجِعُ بِهِ مَالِكُهُ إِذَا وَضَعَهُ فِي يَدِ صَاحِبِ الْفَرَحِ أَوْيَدِ مَأْذُوْنِهِ إِلاَّ بِشُرُوْطٍ ثَلاَثَةٍ أَنْ َيأَتْىِ بِلَفْظِ كَخُذْ وَنَحْوِهِ وَأَنْ يَنْوِى الرُّجُوْعَ وَيَصْدِقُ هُوَ أَوْ وَارِثُهُ فِيْهَا وَأَنْ يَعْتَادَ الرُّجُوْعَ فِيْهِ وَإِذَا وَضَعَهُ فِي يَدِ الْمُزَيَّنِ وَنُحُوهُ أَوْ فِي الطَّاسَةِ الْمَعْرُوْفَةِ لاَيَرْجِعُ إِلاَّ بِشَرْطَيْنِ إِذَنْ صَاحَبُ الْفَرَحِ وَشَرْطِ الرُّجُوْعِ كَمَا حَقَّقَّه شَيْخُنَا ح ف إهـــ (اعانة الطالبين ج 3 ص 51)

Artinya: adapun ungkapan yang terdapat dalam kitab tuhfah yaitu: pendapat yang dianggap kuat tentang hadiah perkawinan (kado/uang) yaitu sebagai hibah (pemberian), keumuman masyarakat menghutangi dan tidak mengatakan “Ambillah”. Atas dasar( menghutangi atau mengatakan ambillah) golongan ulama memutlakkan sebagai hutang, kemudian saya melihat sebagian ulama yang lain seperti Imam Bulqini berpendapat sebagai Hibah (Pemberian). Dan mereka juga berkata, bisa diarahkan ke hutang apabila adatnya hadiah dikembalikan lagi, dan diarahkan ke hibah ketika adatnya tidak dikembalikan.
(I’anah At-Thalibin, Juz 3 hal 51.)

Penjelasan:
 Status Hadiah, kado atau “buwuhan” sebagai hibah bilamana si Pemberi Hadiah, kado atau “buwuhan” tidak berniat untuk menghutangi kepada penyelenggara walimah.
 Status Hadiah, kado atau “buwuhan” sebagai hutang, bilamana si Pemberi menyerahkan kepada yang di hiasi (Seperti penganten) atau ditempat yang disediakan dan terjadi adat kebiasaan uang Hadiah, kado atau “buwuhan” dikembalikan lagi.

• Hukum atau status Jihaz (cincin tunangan dan sejenisnya)
Dalam menjalin hubungan pra nikah saat meminang seseorang wanita di sebagian masyarakat terjadi tradisi yaitu laki-laki menyerahkan harta misalnya cincin atau sejenisnya. Yang disebut Jihaz (pengikat).
Bagaimanakah status cincin atau sejenisnya itu
a. Status harta Jihaz sebagai hadiah
b. Status harta Jihaz sebagai mas kawin
Al-Fatawi al-Kubro, Juz 4 hal 111 ;

(وسئل) عَمَّنْ خَطَبَ إِمْرَأَةٌ فَأَجَابُوْهُ فَأَعْطَاهُمْ شَيْئًا مِنٍ الْماَلِ يُسَمَّى الْجِهَازُ هَلْ تَمْلِكُهُ الْمَخْطُوْبة أَوْلاَ بَيَّنُوْا لَنَا ذَلِكَ (فأجاب) بِأَنَّ الْعِبَرَةَ نِيَّةُ الْخَاطِبِ الدَّافِعِ فَإِنَّ دَفْعَ بِنِيَّةِ الْهَدِيَّةِ مَلَكَتُْهُ الْمَخْطُوْبَةُ أَوْ بِنِيَّةِ إِحْسَانُهُ مِنَ الْمَهْرِ حَسِبَ مِنْهُ. وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ أَوْبِنِيَّةِ الرُّجُوْعِ بِهِ َعَلَيْهَا إِذَا لَمْ يَحْصُلْ زَوَّاجٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ لَمْ تَمْلِكِهِ وَيَرْجِعُ بِهِ عَلَيْهَا (الفتاوى الكبرى 4/111)

“Ditanyakan” tentang seorang laki-laki yang melamar wanita lain (keluarganya) menerima kemudian laki-laki tersebut memberikan kepada mereka sesuatu harta yang dinamakan dengan jihaz (pengikat) apakah wanita yang dipinang tersebut berhak memilikinya? Jawab ”Sesungguhnya yang dijadikan pedoman adalah dari si pelamar tersebut, jika dia berniat memberikannya sebagai hadiah maka wanita pinanganya berhak memilikinya, namun jika niatnya sebagai nilai dari maskawin maka akan dianggap sebagai maskawin untuk wanita yang dipinang. Jika pelamar berniat sebagai maskawin atau tidak ada niat sama sekali, jika perkawinan gagal dan si pemberi jihaz berniat menarik kembali pemberiannya maka si perempuan itu tidak bisa memilikinya dan barang itu harus dikembalikan”.
Kesimpulan :
 Apabila si pemberi jihaz ketika memberikan jihaz berniat atau bertujuan sebagai hadiah maka wanita yang dipinang berhak untuk memiliki harta tersebut.
 Apabila tujuan si pemberi jihaz sebagai nilai dari maskawin maka dianggap sebagai maskawin dan wanita berhak memilikinya, tetapi si pemberi Jihaz (pelamar) juga boleh menariknya kembali apabila perkawinan gagal dan wanita yang dilamar harus mengembalikannya.

• Hukum menunda kehamilan atau KB
Bagaimana pandangan fiqh mengenai wanita yang melakukan dan menggunakan obat atau alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan (KB)
a. Haram, apabila obat yang diminum atau alat kontrasepsi yang digunakan menyebabkan tidak berfungsinya rahim atau telanakan
b. Makruh, apabila obat yang diminum atau alat kontrasepsi yang digunakan bersifat menunda kehamilan (tidak sampai merusak rahim).

Hal ini dijelaskan dalam kitab Al-Bajuri, Juz 2 hal 93 ;
وَكَذَا اِسْتِعْمَالُ اْلإِمْرَأَةِ الشَّيْءَ الَّذِي يَبْطِئُ الْحَبْلَ وَيَقْطَعُهُ مِنْ أَصْلِهِ فَيُكْرَهُ فِي اْلأَوَّلِ وَيُحْرَمُ فِي الثَّنِي وَعِنْدَ وُجُوْدِ الضَّرُوْرَةِ فَعَلَى الْقَاعِدَةِ الْفِقَهِيَّةِ إِذَا تَعَارَضَتْ الْمَفْسَدَتَانِ رُوْعِيَ أَعْظَمُهُمَا ضَرَرًا بِارْتِكَابِ أَخَفِّهِمَا مُفْسِدَةً إهـــ (البجورى على فتح القريب في كتاب النكاح جزء 2 ص 93 )

Artinya: Demikian halnya wanita yang menggunakan sesuatu (seperti obat atau alat kotrasepsi) yang dapat memperlambat kehamilan, hal ini hukumnya makruh. Sedangkan apabila sampai memutus keturunan maka hukumnya haram dan ketika darurat maka sesuai dengan qaidah fiqhiyah “Ketika terjadi dua mafsadat (bahaya) maka hindari mafsadat yang lebih besar dengan melakukan mafsadat yang paling ringan”.

• Menjamak sholat di rumah ketika mengadakan hajatan (ada udzur)
Ketika di rumah menyelenggarakan hajatan seperti acara pengantin sering kali kesibukan menyita waktu banyak sehingga kadang waktu sholat tanpa disadari berlalu begitu saja.
Bolehkah menjama’ sholat ketika ada hajatan atau kerepotan yang lain?
a. Tidak boleh, menurut sebagian ulama karena sholat jama’ digunakan pada saat berpergian bukan pada saat berada di rumah.
b. Boleh saja, menurut Ibnu Sirrin, Al-Qaffal, dan abu Ishaq al-Marwazy, karena menjama’ shalat sebagai kemurahan ketika dalam kondisi sibuk dan hal itu dilakukan bukan sebagai kebiasan.

Hal ini diterangkan dalam kitab Syarah Muslim li an-Nawawi juz 5 hal 219.
وَذَهَبَ جَمَاعَةٌ مِنَ اْلأَئِمَّةِ اِلَى جَوَازِ الْجَمْعِ فِي الْحَاضِرِ لِلْحَاجَةِ لِمَنْ لاَ يَتَّخِذُهُ عَادَةً وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ سِيْرِيْن وأشهب مِنْ أَصْحِابِ مَالِك وَحَكاَهُ الْخَطَابِي عَنِ الْقَفَالِ وَالشَّاشِى الْكَبِيْرِ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِى عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ الْمَرْوَزِى عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ أَصْحَابِ الْحَدِيْثِ وَاخْتَارَهُ ابْنُ الْمُنْذِر (شَرَّحَ مُسْلِمُ لِلنَّوَاوِى فِي أَخِرِ جَوَازِ الْجَمْعِ بَيْنَ الصَّلاَةِ ج 5 ص219 )

Artinya: sejumlah imam berpendapat tentang diperbolehkannya menjamak shalat di rumah karena ada keperluan bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Ini pendapat Ibnu Sirin, Asyhab, pengikut Imam Malik, Al-Qoffal, Al-Syasyi, Al-Kabir dari kalangan Asy syafi’i dan Abu Ishaq Al-Marwazi dari kalangan Ahli Hadist. Pendapat ini di pilih oleh Ibnu Mundzir.

HUKUM SESUATU YANG TERBUAT DARI KOTORAN ATAU BENDA NAJIS (Studi Kasus Biogas)

a. Boleh (dihukumi suci)
 Menurut Syekh Abi Abdul Mukti atau Imam Nawawi al-Bantani al-Jawi dalam kitabnya Kasyifah al-Saja halaman 21, bahwasanya hukum biogas yang dihasilkan dari benda najis (seperti kotoran manusia atau kotoran hewan) adalah diperbolehkan dan dihukumi suci, dengan alasan karena biogas adalah termasuk bukhor (istilah Arab) yang berarti uap.
وَخَرَجَ بِدُخَانِ النَّجَاسَةِ بُخَارُهَا وَهُوَ الْمُـتَصَاعِدُ مِنْهَا لاَ بِوَاسِطَةِ نَارٍ فَهُوَ طَاهِرٌ وَمِنْهُ الرِّيْحُ الْخَارِجُ مِنَ الْكُـنُـفِ أَوْ مِنَ الدُّبُرِ فَهُوَ طَاهِرٌ فَلَوْ مَلاَأَ مِنْهُ قِرْبَةٌ وَحَمَلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ وَصَلَّى بِهَا صَحَّتْ صَلاَ تـُُهُ

Tidak termasuk dalam asapnya benda najis, yaitu uap dari benda najis yang tidak disebabkan oleh api, maka uap ini adalah suci. Demikian halnya dengan angin yang keluar dari jamban (sapiteng) atau kentut yang keluar dari dubur juga dihukumi suci. Bahkan seandainya qirbah (sejenis wadah air atau susu yang terbuat dari kulit) berisi penuh dengan angin atau uap tersebut, kemudian seseorang shalat dengan membawa qirbah tersebut di atas punggungnya, maka sholatnya dihukumi sah.

 Menurut Imam al-Bujairomi
قَوْلُهُ: ( طَاهِرًا ) وَمِنْهُ الرِّيحُ عَلَى الرَّاجِحِ ؛ لِأَنَّهُ مِنْ بُخَارِ النَّجَاسَةِ بِغَيْرِ وَاسِطَةِ نَارٍ ق ل . وَنَصَّ م ر عَلَى أَنَّ الْبُخَارَ الْخَارِجَ مِنْ الْكَنِيفِ طَاهِرٌ ، وَكَذَا الرِّيحُ الْخَارِجُ مِنْ الدُّبُرِ كَالْجُشَاءِ ؛ لِأَنَّهُ لَمْ يَتَحَقَّقْ أَنَّهُ مِنْ عَيْنِ النَّجَاسَةِ لِجَوَازِ أَنْ تَكُونَ الرَّائِحَةُ الْكَرِيهَةُ الْمَوْجُودَةُ فِيهِ لِمُجَاوَرَةِ النَّجَاسَةِ لَا أَنَّهُ مِنْ عَيْنِهَا .

Qoul Kyai mushonnif, (suci) uap atau angin termasuk suci menurut qoul yang rajih (unggul), karena angin tersebut berasal dari asap benda najis yang menggunakan perantara atau media api (Imam Qoffal)
Dan Imam Romli juga menegaskan bahwa asap yang keluar dari WC atau kandang ternak itu suci, begitu juga angin yang keluar dari dubur atau anus seperti serdawa (perut mual) karena belum tentu serdawa tersebut berasal dari benda (ain) yang najis, dan kemungkinan bau busuk atau menjijikkan yang ada didalamnya itu disebabkan karena dekatnya dengan najis bukan dari benda najisnya. (Hasyiyah al-bujairomi ala al-khotib juz 2 hal 185.)

b. Tidak Boleh (tetap dihukumi najis)
 Menurut pendapat mushonnif kitab Khasyifatul jamal pada bab far’un dukhonin najasati juz 2 hal 53 dijelaskan sebagai berikut:
Termasuk kategori asap yaitu benda atau angin yang dihasilkan dari pembakaran kotoran hewan hingga menjadi bara api (mowo) yang tidak berasap, akan tetapi uap atau asap yang keluar dari proses pembakaran kotoran tersebut dihukumi najis, karena melalui perantara api. Dan apabila ada sesuatu yang disulutkan dari bara api ini seperti tangan anda dan tempat tinta (tabung asap), akhirnya ada kelembaban (basah) disalah satu sisi keduanya, sampai sampai benda yang suci menjadi najis karenanya, maka asap yang naik atau muncul itu hukumnya najis, bila tidak maka sebaliknya.”

( قَوْلُهُ وَبُخَارُهَا كَذَلِكَ إلَخْ ) ، وَمِنْهُ مَا يَقَعُ مِنْ حَرْقِ الْجُلَّةِ حَتَّى تَصِيرَ جَمْرًا لَا دُخَانَ فِيهِ لَكِنْ يَصْعَدُ مِنْهُ بُخَارٌ فَهُوَ نَجِسٌ ؛ لِأَنَّهُ بُخَارٌ بِوَاسِطَةِ نَارٍ ، وَلَوْ أُوقِدَ مِنْ هَذَا الْجَمْرِ شَيْءٌ كَيَدِك وَدَوَاةِ دُخَانٍ ، فَإِنْ كَانَ هُنَاكَ رُطُوبَةٌ مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ بِحَيْثُ يَتَنَجَّسُ بِهَا الطَّاهِرُ كَانَ الدُّخَانُ الْمُتَصَاعِدُ نَجِسًا وَإِلَّا فَلَا ا هـ عَزِيزِيٌّ .

 Menurut ulama madzhab syafi’i bahwa asap dari benda najis bila terbakar maka ada dua pendapat:
a. Najis; karena termasuk bagian yang terurai dari najis seperti abu,
b. Tidak najis; karena asap tersebut adalah asapnya benda najis seperti angin kentut yang keluar dari perut.
Hal ini diterangkan dalam kitab al-Majmu’ juz 2 hal 579.
قَالَ اَلْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ الله ُ* [ وَأَمَّا دُخَانُ النَّجَاسَةِ إِذَا أَحْرَقَتْ فَفِيْهِ وَجْهَانِ اَحَدُهُمَا اَنَّهُ نَجِسٌ ِلاَنَّهَا اَجْزَاءٌ مُتَحَلِّلَةٌ مِنَ النَّجَاسَةِ فَهُوَ كَالرَّمَادِ وَالثَّانِى لَيْسَ بِنَجَسٍ ِلاَنَّهُ بُخَارُ نَجَاسَةِ فَهُوَ كَاْلبُخَارِ اَلَّذِىْ يَخْرُجُ مِنَ الْجَوْفِ ] *